Film Indonesia dan Pengakuan di Mata Dunia

Film Indonesia dan Pengakuan di Mata Dunia

Desember 24, 2018 0 By Gema Lokal

Strategi.id – Keberhasilan Wiro Sableng atau 212 Warrior menggandeng 20th Century Fox dan beragam penghargaan yang didapat cinema Indonesia di kancah internasional, membuktikan bahwa perfilman Indonesia mulai diakui kualitasnya di mata dunia.

Kesuksesan tersebut juga diiringi pencapaian Indonesia sebagai pasar film paling potensial di Asia Pasifik.

Baca Juga : Lewat Film KPK Kampanyekan Antikorupsi

Selama tahun 2017, tercatat kawasan Asia Pasifik memberi “sumbangan” USD 16 miliar ke box office. Angka tersebut meningkat 44% dari lima tahun terakhir. Menariknya, Indonesia adalah negara dengan perkembangan pasar cinema paling signifikan.

Pencapaian tersebut diumumkan dengan penuh rasa bangga di acara CineAsia 2018.

Dengan tema A Focus on Indonesia: The Rise of the Sleeping Giant, konvensi film tahunan paling besar di Asia ini digelar pada 10-13 Desember 2018 di Hong Kong Convention & Exhibition Centre.

Dikutip dari siaran pers yang diterima GNFI, industri layar lebar Indonesia menunjukkan perkembangan yang signifikan dengan 28% peningkatan box office per tahun dalam waktu 4 tahun terakhir.

Kemudian di tahun 2017 lalu, Indonesia menduduki posisi 16 besar pasar layar lebar terbesar di dunia.

Tak sampai di situ, peluang untuk meluaskan pasar film Indonesia juga terbuka lebar. Data dari CineAsia menyebutkan, rasio layar bioskop per jumlah penduduk Indonesia masih sangat rendah, hanya 0,4 per 100.000 ribu orang. Angka itu menunjukkan masih besarnya ruang yang bisa dikembangkan oleh perfilman Indonesia.

Baca Juga : “Pengabdi Setan” Juara Pada Penghargaan Film Horor Terbaik Toronto 2018

Acara yang mengundang Sheila Timothy selaku COO Lifelike Pictures dan produser film Wiro Sableng  sebagai pembicara ini juga mencantumkan pencapaian film-film Indonesia di kancah internasional.

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak misalnya, yang memenangkan beragam penghargaan internasional walau bukan lagi berlabel film baru. Kemudian Wiro Sableng yang menjadi ko-produksi film pertama studio 20th Century Fox di Asia Tenggara.

“Semoga dengan adanya kesempatan berbagi dalam CineAsia yang dihadiri oleh para stakeholder industri film dunia ini dapat semakin menguatkan posisi industri film Indonesia di mata dunia,” terang Sheila

“Tentunya juga agar dapat mendatangkan lebih banyak lagi kerja sama internasional dan mendapatkan banyak keuntungan, seperti transfer knowledge, perluasan distribusi, dan tentunya aspek finasial yang memungkinkan lebih banyak film Indonesia berkualitas untuk diproduksi serta penambahan infrastruktur perfilman.” imbuhnya.

Namun di balik pencapaian membanggakan ini, tersimpan pula tugas-tugas berat yang kudu segera diselesaikan insan perfilman Tanah Air.

Antara lain, saat ini Indonesia masih kekurangan jumlah pekerja film yang berkualitas, perlu penambahan layar bioskop di beberapa daerah, dan mengatur regulasi perfilman seperti insentif produksi dan sebagainya.

Maju terus, perfilman Indonesia!


Artikel yang berjudul “Film Indonesia dan Pengakuan di Mata Dunia” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita